Skip to main content

Nasihat Untuk Pemimpin

Definisi Nasihat
Nasihat secaraetimologi berasal dari kata nashaha yang berarti khalasa yaitu murni. Adapun nasihat menurut Abu Amr bin Salah adaiah menghendaki suatu kebaikan untukorang lain dengan cara ikhlas baik berupa findakan atau kehendak Pentingnya Nasihat

Dalam pandangan Islam, nasihat adaiah pilar agama yang sangat penting dan penyanggah kebenaran yang pal¬ing fundamental sehingga Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:

Dari Tamim Ad Dary bahwasannya Nabi bersabda:"Agama adaiah Nasihat". kami bertanya: Untuk siapa? Beliau bersabda: "Untuk Allah, KitabNya, Rasul-Nya dan para pemimpln kaum muslimin serta seluruh Umat Islam". (H.R Muslim dan An-Nasa'i) 

Nasihat kepada pemimpin
Nasihat terhadap pemimpin adaiah permasalahan yang jarang mendapat penjelasan secara baik sesuai dengan asas hukum Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Sebagian orang terkadang kurang proporsional dan tidak terpuji dalam mengoreksi kekurangan sikap para pemimpin bahkan melanggar kaidah-kaidah dasar islam dalam menegakkan prinsip amar ma'ruf nahi munkar terdapar para pemimpin, di antara mereka menempuh cara demo, membuat makar politik sehingga tidak jarang menimbulkan kekacauan dan keresahan dan sebagian yang lainnya menempuh cara terorisme.

Menasihati pemimpin termasuk per-kara yang paling diridhai Allah sebagai-mana sabda Nabi; 

"Sesungguhnya Allah rela terhadap tigaperkara dan benci terhadap tiga perkara; Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, perpegang teguh terhadap tali Allah dan meNasihati para pemimpin. Dan Allah benci terhadap pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak pertanya". 

Subtansi Nasihat kepada Pemimpin
Nasihat terhadap para pemimpin berarti membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, mentaati mereka dalam kebenaran, mengingat-kan mereka dengan cara lembut dan sopan terhadap hak-hak rakyat dan tidak melakukan pemberontakan.

Imam Nawawi berkata bahwa menasihati para pemimpin berarti menolong mereka untuk menjalankan kebenaran, mentaati mereka dalam kebaikan,. mengingatkan mereka dengan lemah lembut terhadap kesalahan yang mereka berbuat, memperingatkan kelalaian mereka terhadap hak-hak kaum muslimin, tidak melakukan pemberontakan dan membantu untuk menciptakan stabilitas negara.

Imam Al Khattaby berkata bahwa termasuk nasihat terhadap pemimpin adalah shalat berjamaah di belakang mereka, jihad bersama mereka, membayar zakat kepada mereka, tidak keluar dari mentaati mereka tatkala terjadi penyelewengan dan kedhaliman, tidak memuji secara dusta dan selalu mendo'akan kebaikan untuk mereka. Dan nasihat yang paling penting adalah mendatangi mereka dalam rangka untuk menyampaikan kekurang-an dan kebutuhan umat serta menjelas-kan kelemahan para pejabat khususnya hal-hal yang berdampak negatif bagi umat. Mengingatkan agar takut kepada Allah dan hari akherat, mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang tentang kemungkaran serta mendorong mereka agar hidup sederhana dan wara'. 

Macam-macam pemimpin
Para pemimpin kuam muslimin terbagi menjdi dua: 

a. Pemimpin fajir atau jahat
Pemimpin yang fajir atau jahat yaitu pemimpin yang hanya berambisi terhadap kekuasaan belaka, perbuatan mereka tidak pernah sepi dari peng-aniayaan dan kedhaliman dan tidak segan-segan melibas siapa saja yang mencoba untuk menggoyang kekuasa-annya meskipun dia melanggar syari'at. Tidak adil dalam memberikan hak-hak umat serta boras terhadap harta negara. 

Faktor penyebab rusaknya para pemimpin
  1. Lemahnya pengamalan prinsip agama.
  2. Senang mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia belaka.
  3. Sikap kolusi dan nepotisme yang berlebihan.
  4. Teman dan penasihat kepercaya-an yang tidak baik atau menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu kepercayaan.
  5. Menyerahkan kekuasaan dan jabatan kepada orang-orang yang tidak berjiwa patriot dan ihklas.
  6. Diktator dalam mengendalikan kekuasaan.
  7. Tekanan internasional terhadap para pemimpin Islam.
  8. Terpengaruh .dengan sistim negara-negara kafir dan meninggalkan sistim Islam.

b. Pemimpin yang adil lagi bijaksana
Pemimpin yang adil lagi bijaksana artinya selalu mendahulukan kebenaran dan kepentingan umum, sungguh-sungguh dalam menerapkan syariat Islam dan sangat adil lagi bijaksana dalam memberikan hak-hak umat serta hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam membelanjakan harta negara. 

Cara Menasihati Pemimpin
Islam memiliki etikatersendiri dalam menasihati para pemimpin bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Apabila menasihati kaum muslimin secara umum perlu memakai kaedah dan etika, maka menasihati para pemimpin lebih perlu memperhatikan kaedah dan etikanya.

Dari Hisyam Ibnu Hakam meriwayat-kan bahwa Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan dilakukan secara terang-terangan. Akan tetapi nasihatilah dia di tempat yang sepi, jika menerima nasihati itu, maka sangat baik dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban Nasihat kepadanya". (H.R Imam Ahmad).

Sangat tidak bijaksana mengoreksi kekeliruan para pemimpin lewat mimbar atau tempat-tempat umum sehingga menimbulkan banyak fitnah. Seharus-nya menasihati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat yang rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasihati Utsman bin 'Affan bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam Ibnu Hajar berkata bahwa Usamah telah menasihati 'Ustman bin Affan dengan cara yang sangat bijak-sana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.

Imam Syafi'i berkata bahwa barangsiapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka dia telah menasihati dan menghiasainya dan barang¬siapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka dia telah mempermalukan dan merusaknya.

Imam Al Fudhail bin 'lyadh berkata: Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: Menasihati para pemimpin dengan cara terang-terangan lewat mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum bukan cara atau manhaj salaf, sebab demikian itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin, akan tetapi manhaj salaf dalam menasihati pemimpin adalah dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan Nasihat tersebut.

Bersabar terhadap pemimpin yang zhaiim
Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan untuk menasihati pemim¬pin yang zhaiim, maka sebaiknya berdi-am diri dan bersabar. sebagaimana sabda Rasulullah:

"Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpin sesuatu yang tidak menye-nangkan, maka hendaklah bersabar, sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah". (HR. Al-Bukhari)

Abdullah Ibnu Abbas berkata: "Pemimpin adalah ujian bagi kalian, apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapat pahala dan kamu harus bersyukurdan apabila dia zhaiim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar."

Imam Nawawi berkata: "Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran se-orang pemimpin tidak berdosa kecuali dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran tersebut." 

Bekal bagi orang yang mensehati pemimpin

1. Ikhlas dalam memberi nasihat.

Nabi Muhammad bersabda kepada: 

Abdullah bin Amr:" Wahai Abdullah bin Amr jika kamu berperang dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan membangkitkan kamu, sebagai orang yang sabar dan ikhlas dan jika kamu berperang karena riya', maka Allah akan mem-bangkitkan kamu sebagai orang riya dan ingin dipuji". (HR. Abu Daud)

Imam Ibnu Nahhas berkata: Orang yang menasihati pemimpin atau kepala negara hendaknya mendahulukan sikap ikhlas untuk mencari ridha Allah. Barangsiapayang mendekati pemimpin untuk mencari pengaruh atau jabatan atau pujian maka dia telah berbuat kesalahan yang besar dan melakukan perbutan sia-sia.

2. Menjauhi segala macam ambisi pribadi.
Seorang yang menasihati pemimpin sebaiknya menaggalkan segala ambisi dan keinginan pribadi untuk mendapat-kan sesuatu dari pemimpin atau penguasa. Para ulama salaf telah banyak memberi contoh dan suri tauladan, seperti Sutyan Atsaury, beliau sering menolak pemberian para penguasa khawatir bila pemberian tersebut   menghalanginya   untuk mengingkari kemungkaran.

3. Mendahulukan sikap kejujuran dan keberanian
Seorang yang ingin menasihati pemimpin atau penguasa hendaknya bersikap jujur dan pemberani sebagai-mana sabda Nabi:

"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenar-an kepada pemimpin yang dhalim" (HR Abu Daud).

4. Berdoa kepada Allah dengan doa-doa ma'tsur
Dari Ibnu Abbas bahwa beliau berka¬ta: Jika kamu mendatangi penguasa yang kejam, maka berdoalah:

Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi seru semua makhluq-Nya, Allah Maha Tinggi dari semua yang saya takutkan dan khawatirkan. Saya berlindung kepada Allah yang tiada Tuhan yang haq selain-Nya, Dialah yang menahan langit yang tujuh sehingga tidak jatuh ke bumi dengan izin-Nya dari kejahatan hamba-Mu dan para pengikutnya, bala tentaranya dan para pendukungnya baik dari jin atau manusia. Ya Allah jadilah Engkau pedampingku dari kejahatan mereka, Maha Tinggi kekuasaan Allah dan Maha Agung serta Maha Berkah Nama-Nya tiada Tuhan selain Engkau dibaca tiga kali-(H.R Ibnu Abu Syaibah)

Demikian sekilas penjelasan tentang kaedah dan etika dalam fikih Nasihat khususnya Nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin.

Rujukan: HaqiqalulAmrbilMa'ruf wanahi 'anilMungkai; Dr. Hamd bin Nasir Al Ammar. Fikih Nasihat, Fariq Qasim.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar