Antara Kehendak Allah dan Ujian

Link Banner
"Apakah kalian tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang di langit dan di bumi. Bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mafuzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah" (Al-Hajj (22) : 70)

Tidak sempurna iman seorang muslim sampai dia meyakini dan memahami qadha' dan qadar Allah. Yaitu kehendak Allah yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Qadha' dan qadar merupakan sunna-tullah bagi kehidupan semua manusia. Ada yang mengimani dan ada yang mengingkari. Sebuah hakikat yang membedakan antara kafir dan mu'min.

Seluruh kehendak Allah pasti teriaksana. Tak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi seluruh kehendak-Nya. Jin, manusia serta alam semesta semuanya takluk di bawah ke¬hendak-Nya.

Sekiranya Allah menimpakan suatu-musi-bah kepada seseorang, dan seluruh manusia serta jin berkumpul untuk menolong (meng-halanginya), maka tak ada artinya apa yang mereka lakukan. Mereka tak akan mampu menghalangi musibah itu. Sebaliknya, bila Allah menghendaki kebaikan itu (termasuk rizki) atas seseorang, walaupun seluruh jin dan manusia serta apa saja yang mereka usahakan untuk menghalangi pertdlongan itu, maka mereka pun tak akan mampu mencegah pemberian itu. Subhanallah.

"Dan kalian tak bisa menghendaki sega-lanya kecuali apa yang telah Allah Rabb semesta alam menghendakinya" (At Takwir (81): 29). 

Sudah seharusnya kita menerima semua ketentuan Allah, karena memang tak ada yang bisa menolak kehendak Allah. Allah selalu menang terhadap semua ke-hendak-Nya. Untuk itulah lata meyakini ilmu Allah yang qadim, yang belum dan yang sudah terjadi. Sesungguhnya Dia adalah Al Awwal dan Al Akhir.

Imam Ibnu Taimiyyah membagi masalah qadha' dan qadar ini dalam dua hal:

1. Mengimani (meyakini) bahwa Allah Maha Mengetahui apa saja yang ada di alam semesta ini. 

"Apakah kalian tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang di langit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab Lauh Mahjuzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagiAllah" (AlHajj (22):70)

2. Mengimani bahwa kehendak Allah pasti terlaksana. Kejahatan jin dan manusia itu semua adalah taqdir (kehendak) Allah, yaitu taqdir kauny. Tetapi Allah juga me-miliki taqdir qaufy (syar'iy), yaitu taqdir Allah yang sudah menjadi ketentuan-Nya secara syar'iy. Barangsiapa yang taat maka me;hdapat ridha-Nya, dan barangsiapa yang inkar kepada-Nya, maka mendapat murka-Nya (laknat).

Kita tidak mengikuti taqdir kauny seperti yang digunakan oleh iblis ketika membantah perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Sehingga iblis memanfaatkan laknat Allah itu untuk terus berbuat munkar, yaitu menye-satkan seluruh keturunan anak Adam. Maka seseorang yang mengikuti seperti itu, berarti dia telah menggunakan hujjah iblisiyah.

Suatu ketika seorang pencuri menghadap Umar dan mengatakan; "Wahai amirul muk-minm,  sesungguhnya aku mencuri karena taqdir Allah!". Maka Umar pun menjawab, "Benar, akan tetapi soya akan memotong ta-nganmu dengan tqdir Allah pula, yaitu taqdir syary". Karena memang hukum Allah, bahwa siapa saja yang terbukti mencuri dan me-menuhi syarat untuk dihukum, maka harus dipotong tangannya. Maka terdiamlah pencuri itu.

Pembantah Taqdir
Sesungguhnya orang yang menentang taqdir adalah majusy (penyembah berhala). Orang-orang kelompk qadariyyah mengatakan bahwasanya Allah tidak memiliki kehendak. Mereka, oleh Rasulullah SAW dikatakan majusil ummah. Bila mereka sakit ja-nganlah dijenguk, dan bila mati, jangan di-antar jenazahnya (HR. Imam Abu Dawud dari Ibnu Umar). 

Adapun orang-orang mu 'ta-zilah mengatakan bahwa Allah tidak tahu menahu dengan perbuatan hamba-hamba-Nya. Apabila hal ini diyakini oleh semua orang tentu rusak dan hancur binasalah alam semesta ini. Tetapi Allah Maha Agung dan Maha Bijaksana.

Imam Syafi'i mengatakan, "Tentanglah mereka dengan ilmu. Bila mereka mengingkari maka mereka kqfir (ingkar kepada Allah). Bila mereka menerima, berarti mereka beriman".

Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman mengatakan, "Rasulullah bersabda bahwa 'Setiap umat ala majus (penyembah berhala) dan majusnya umat ini adalah orang yang menentang qadar Allah. Mereka adalah kelompok dajjal. Dan hak Allah untuk mempertemukan mereka dengan dajjal" (HR. Abu Dawud). 

Umar mengatakan, "Janganlah duduk bersa-ma orang qadariyah. Jangan memulai pembi-caraan dengan mereka".

Qadar merupakan aturan taufaid. Siapa saja yang bertauhid tetapi menolak qadar, maka pembohongannya itu membatalkan tauhidnya.

Bagi seorang mukmin, ujian merupakan kebaikan baginya.' Baik dan buruk di dunia semua adalah ujian. Sebagaimana sabda Ra-sulullah SAW: 

"Sungguh unik urusan orang-orang mukmin. Tak ada. yang memilikinya kecuali orang-orang mukmin. Segala urusannya adalah kebaikan baginya. Bila mereka mendapat kesenangan, maka dia bersyukur, dan itu adalah baik baginya. Dan bila datang musibah padanya, maka mereka bersabar ka-renanya, dan hal itu adalah kebaikan baginya".

Hal ini bukan berarti kita melepaskan diri dari ujian. Bahkan bila seseorang telah me-nyatakan beriman, maka telah siap mendapat ujian.

Imam Ahmad dalam musnadnya mengatakan, "Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Adapun ujian orang yang berilmu adalah menyampaikan". Bila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia memberikan ujian baginya Bila mereka ridha dengan ujian itu, maka Allah pun ridha kepadanya. Bila ia tidak ridha dengan ujian itu, maka Allah pun murka kepadanya

Untuk itulah seorang muslim dituntun oleh Allah agar senantiasa meminta pertolongan kepadaNya dan senantiasa menjalan-kan shalat Keduanya adalah penolong bagi ujiannya. 

"Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan-Nya itu mati bahkan mereka hidup, tetapi kalian tiada menyadarinya. Dan sungguh Kami akan memberikan cobaan kepada kalian; dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gem-bira bagi orang-orang yang sabar Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan, inna lillahi wa inna ilaihi taji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (Al Baqarah (2): 153-157).

Dan orang-orang yang senantiasa sabar dan menerima dengan lapang had segala uji¬an Allah, maka mereka akan mendapat rah¬mat dari-Nya.

Tegar Bersama Ujian
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya At Tibun Nabawy, menulis ada 15 obat atau penawar dalam menghadapi ujian :
  1. Meyakini tauhid rububiyyah. Yaitu menyadari bahwa Allah adalah Pencipta, Pengarur, Pemelihara, Pemberi rizki dan yang menguasai segala sesuatu Bila haii kita telah meyakini itu semua kegelisahan tentu akan berubah menjadi ketenangan. Semuanya ter-letak di bawah pengawasan dan kekuasa-an-Nya.
  2. Meyakini dan mengamalkan tauhid uluhiyyak Yaitu tauhid dalam pengabdian, pengamalan syari'at Allah, danpenyembahan mutlak hanya kepada Allah.
  3. Tauhidul ilmu. Meyakini bahwa Allah senantiasa melihat dan mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Sehingga apa saja yang dilakukannya merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla. Terjauhlah diri dari kemaksiyatan dan kemadhararan.
  4. Mensucikan Allah. Yaitu menjauhkan diri dari segala bentuk kemusyirkan, yang jelas nampak maupun yang tersamar.
  5. Mengakui kesalahan dirinya sendiri. Meyakini bahwa musibah yang menimpa ini bukanlah merupakan penganiayaan terhadap dirinya. Bahkan mengakui bahwa dirinyalah yang telah kdiru, karena Allah tak sekali-kali tnenganiaya hamba-hambaNya.
  6. Bertawasul kepada Allah. Yaitu berta-qarub kepada Allah dengan amal-amal yang telah dilakukan. Juga senantiasa disertai ke-kusyukan dalam berdoa, yaitu bersungguh dalam berdoa dan penuh harap hanya kepada Allah.
  7. Al Isti 'anah billahi wahdah. Meminta pertolongan hanya kepada Allah dan menafi'kan kepada selain-Nya. "lyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan dan hanya kepada Engkau kami menyembah' (Al-Fatihah (1):
  8. Mengikrarkan keinginan kepada Allah dengan penuh keseriusan.
  9. Tawakal kepada Allah, yaitu menye-rahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan begitu, maka akan timbul sikap otimis. Karena Allahlah yang kuasa untuk membolak-balikkan hati.
  10. Menghibur hati dengan bacaan Al-Qur'an, menikmatinya atau menggunakan argumen-argumennya. Mengambil sinar Al-Qur'an untuk menghilangkan syubuhat. Yaitu memahami dan mengamalkannya.
  11. Istighfar, memohon ampun kepada Allah. Dengari mengakui segala salah dan do-sa di hadapan-Nya, maka akan menimbulkan kemantapan hah dan kekuatan diri.
  12. Bertaubat kepada Allah, kembali ke-pada-Nya. Senantiasa mengusahakan diri untuk tetap bersama Allah.
  13. Berjihad fii sabilillah. Yaitu bersung-guh-sungguh dalam segala aspek kehidupan untuk melaksanakan kehendak Allah semampunya. Dengan berjihad ini, maka bisa menghilangkan segala kesedihan dan penderitaan. Oleh karena itu para mujahidin itu tidak pernah bersedih dan takut Mereka senantiasa berharap akan berita gembira dari-Nya, yaitu surga.
  14. Segera melaksanakan shalat dengan beriama'ah dengan khusyu'. Shalat yang khusyu' mampu mencegah diri dari segala kemungkaran dan kemadharatan.
  15. Al bard'ah, melepaskan dui dari se-gala kekuatan dan ikatan selain Allah.
Itu semua adalah ciri-ciri orang yang telah menyatakan bahwa Allahlah Rabb-nya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasul dan Nabio-Nya. "Radhitu billahi rabban, wa bil Islami dinan, wa bi Muhammadin Nabiyan wa Rasulan".

0 Response to "Antara Kehendak Allah dan Ujian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel