Skip to main content

13 Nasehat Untuk Menghindari Hutang

Berhutang merupakan kenyataan yang melanda hampir setiap rumah tangga mulimin. Apalabi ketika mendekati hari raya lembaran banyak sekali kaum muslimin yang hanya karena ingin berbusana dengan pakaian yang baru mereka sampai rela berhutang pakaian meskipun harga pakaian tersebut tentunya akan lebih mahal dibandingkan dengan membelinya secara cash. Tentunya hal ini sangat tidak sesuai dengan tuntunan islam, dikarenakan memaksakan keadaan diluar batas kemampuan, dan terkesan berlebihan. Berikut ini beberapa nasehat sebagai bahan renungan agar terhindar dari jerat hutang dan tidak menyesal karenanya: 


Renungkanlah Selalu Hadits-hadits tentang Akibat Hutang
Nabi Muhammad Shollallohu Ngalaihi Wassalam mendatangi seorang laki-laki (yang meninggal dunia) untuk dishalatkan, maka Beliau bersabda, yang artinya: 
"Shalatkanlah teman kalian, karena sesungguhnya dia memiliki hutang" 

Dalam Riwayat Lain disebutkan: "Apakah teman kalian ini memiliki hutang? Mereka Menjawab, Ya, dua dinar". 

Maka Nabi Muhammad Shollallohu Ngalaihi Wassalam  mundur seraya bersabda, "Sholatkanlah teman kalian" Lalu Qatadah berkata, "Hutangnya menjadi tanggunganku" Maka Rasulullah Shollallohu Ngalaihi Wassalam  bersabda "Penuhilah (Janjimu), Lalu Beliau menshalatkannya. 
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Shahih). 

Dari Abu Hurairah Rodhiallohu Nganhu ia berkata, Rasulullah Shollallohu Ngalaihi Wassalam bersabda: 

"Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung karena hutangnya, sampai ia membayarkan" 
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Shahih)

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, Rasulullah Shollallohu Ngalaihi Wassalam bersabda: 

"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali hutang" 
(HR. Muslim)

"Demi Jiwaku yang ada di tanganNya, seandainya ada seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian ia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi dan terbunuh lagi, sedang ia memiliki hutang, sungguh ia tidak akan masuk surga sampai hutangnya dibayarkan" 
(HR. An-Nasa'i, Hasan)

Jangan Berhutang Kecuali Karena Terpaksa
Pada kenyataannya, banyak orang yang berhutang untuk bisa merayakan lebaran layaknya orang kaya, untuk bisa menyelengarakan pesta pernikahan dengan mewah, untuk bisa memiliki gaya hidup modern, misalnya dengan kredit mobil, rumah mewah, perabotan-perabotan mahal dan lain sebagainya. 

Lebih Ironi lagi, ada yang hutang untuk selamatan keluarganya yang meninggal karena malu kepada para tetangga jika tidak mengadakannya, atauu jika makanannya terlalu sederhana. 

Aisyah Radhiallohu Nganhu  berkata: 

Nabi Muhammad Shollallohu Ngalaihi Wassalam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tempo dan belia memberi jaminan baju besi kepadanya" 
(HR. Al-Bukhori)

Ibu Munir berkata: Seandainya beliau ketika itu memiliki uang kontan, tentu beliau tidak mengakhirkan pembayarannya, (lihat, Fathul Bari, 5/53). 

Bertaqwalah Kepada Allah Sebelum dan Ketika Berhutang
Allah Berfirman, yang Artinya: 

"Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah maka akan diberikan kemudahan urusannya" 
(Ath-Thalaq: 4)

Nabi Muhammad Shollallohu Ngalaihi Wassalam bersabda: 

"Barangsiapa mengambil harta orang (berhutang) dan ia ingin membayarnya, niscaya ALlah akan menunaikannya dan barang siapa berhutang dengan niat menghilangkannya (tidak membayar), niscaya Allah membuatnya binasa"
(HR. Al-Bukhari)

"Siapa yang meminjam dan sengaja untuk tidak membayarnya, niscaya ia menemui Allah dalam keadaan sebagai pencuri" 
(Shahil Ibnu Majah, No. 1954, 2/52)

Hutang Adalah Kesedihan di Malam Hari dan Kehinaan di Siang Hari
Banyak orang menyembunyikan diri dari pandangan manusia karena takut bertemu dengan orang yang menghutanginya. Kaerna itu dianjurkan bagi yang menghutangi untuk meringankannya, Rasulullah Shollallohu Ngalaihi Wassalam bersabda: 

"Barangsiapa meringankan hutang orang yang dihutanginya atau membebaskannya maka ia berada di bawah naungan 'Arasy pada hari Kiamat" 
(HR. Muslim)

Jangan Tertipu Oleh Promosi dan Iklan Bank
Kebanyakan dan Mayoritas Bank selalu mengiklankan agar orang melakukan transaksi keuangannya dengan jasa bank. Diantaranya, juga promosi mendapatkan kredit secara mudah. hal itu karena hasil bank-bank ribawi adalah dari prosentasi bunga uang yang dipinjamkannya. Semakin lama masa pinjaman seseorang semakin besar pula keuntungan yang diraup bank, itulah yang dikehendaki bank. Dan itulah hakikat riba, Allah berfirman, artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan riba dengan berlibat ganda dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. 
(Ali Imran: 130)

"Satu dirham uang riba yang dimakan seseorang dan ia mengetahuinya, lebih berat (dosanya) dari pada 36 kali berzina" 
(HR. Al-Albani)

"Nabi Muhammad Shollallohu Ngalaihi Wassalam sungguh telah melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis dan kedua saksi atasnya, Beliau besabda, "Mereka itu sama saja" 
(HR. Muslim)

Dalam mu'amalah ribawi bank selalu mengeruk keuntungan, sedangkan peminjam bisa saja sewaktu-waktu merugi. Adapun banyaknya bank ribawi yang bangkrut, padahal secara matematis selalu untung maka hal itu adalah bukti kebenaran firman Allah: 

"Allah memusnahkan (Membangkrutkan) riba dan mengembangkan sedekah" 
(Al-Baqarah : 276) 

Pemakaian Kartu Kredit
Di zaman supra modern ini banyak bertebaran kartu kredit. Pemiliknyya bisa membeli apa saja, karena perusahaan yang mengeluarkan kartu kredit itu menjamin membayarnya. Secara lahiriah, pelayanan tersebut adalah rahmat, praktis dan sangat memanjakan. Tetapi ingat, jika mengakhirkan pembayaran untuk beberapa lama maka hutangnya akan menumpuk ditambah bunganya. Belum lagi pemilik kartu kredit akan selalu keranjingan untuk berbelanja hingga barang-barang yangtidak perlu sekalipun. Lalu, jika ia tidak segera membayarnya, maka ia kan terperosok ke dalam riba. Na'udzubullah. 

Hindari Membeli Secara Kredit 
Kini membeli barang-barang secara kredit seperti sudah menjadi simbol zaman ini. Padahal ia adalah fenomena yang salah. Orang yang telah membeli secara kredit, apalagi dengan nilai nominal yang tinggi, kelak akan menyesal. Sebab misalnya, orang yang membeli mobil secara kredit, dia akan membayar kira-kira dua kali lipat dari harga biasanya. Dan semakin lama masa kreditnya semakin berlipat pula yang harus ia bayar. 

Jangan Termakan Oleh Paham Yang Menyesatkan
Sebagian orang ada yang berpendapat, orang yang tidak memiliki hutangadalah orang yang diragukan kejantanannya atau kurang semangat dalam bekerja. Bahkan mereka mengolok-olok kawannya yang memiliki hutang sedikit. 

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin berkata: 
"Tidak diragukan lagi adalah keliru. Bahkan hina tidaknya seseorang tergantung pada hutangnya. Siapa yang tidak memiliki hutang maka ia adalah orang mulia dan siapa yang memiliki hutang maka dialah orang yang hina. Karena sewaktu-waktu orang yang menghutanginya bisa menuntut dan memenjarakannya. Ia adalah orang yang sakit dan menginginkan semua orang sakit seperti dirinya. Karena itu, orang yang berakal tidak perlu memperdulikannya"

Berlindung Kepada Allah dari Tidak Bisa Membayar Hutang
 Rasulullah Shollallohu Ngalaihi Wassalam memperbanyak do'a: 

"Ya Allah, aku berlindung kepadaMU dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalas-malasan, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain" 
(HR. Al-Bukhari)

Dari Aisyah, Rasulullah Shollallohu Ngalaihi Wassalam dalam shalatnya berdo'a: 

"Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari dosa dan hutang" 

Maka seseorang bertanya, Wahai Rasulullah, betapa seringnya engkau berlindung dari hutang? Maka Beliau menjawab, "Sesungguhnya bila seseorang itu berhutang akan berdusta dan berjanji tetapi ia pungkiri" (Fathul Bari, 5/61).

Muliakanlah Tamu Tanpa Berlebihan 
Sebagian orang begitu sangat memuliakan tamunya. Mereka berusaha untuk membeli berbagai makanan untuk menjamu tamunya tersebut, meski terkadang dengan menghutang. Syar'at islam mengajarkan agar kita memuliakan tamu, tetapi juga menekankan untuk tidak boros.Allah berfirman yang artinya: 

"Dan janganlah kalian berlebih-lebihan (boros), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" 
(Al-An'am : 141)

Jangan Membebani Diri Diluar Kemampuan 
Sebagian orang ada yang memaksakan diri, misanya pergi haji dengan menjual rumah atau sawah tempat penghasilannya sehari-hari, sehingga sekembali dari haji ia menjadi orang yang terlunta-lunta dan sengsara. Padahal Allah berfirman, artinya: 

"Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya" 
(Al-Baqarah : 286)

Bahkan dalam masalah haji, secara khusus Allah berfirman, artinya:

"Mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu atas orang-orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah" 
(Ali Imran: 97)

Mempertimbangkan Untung Rugi Sebelum Berusaha
Sebagian orang begitu melihat kawannya sukses dengan usaha tertentu serta merta ia terjun di bidang yang sama. Tidak diragukan lagi bahwa semua ada dalam taqdir Allah, tetapi membuka usaha tanpa pertimbangan matang adalah salah satu sebab kerugian dan terjerat hutang. 

Program Membayar Pinjaman 
Diantara hal yang membantu menyelesaikan hutang adalah membayarnya secara berkala. Bayarlah pinjaman itu berangsur dan jangan menganggap remeh karena sedikit yang dibayarkan. Hal ini Insya Allah akan membantu menyelesaikan hutang secepatnya. 

Demikianlah beberapa nasihat yang dapat menjadi bahan renungan agar kita semua terhindar dari jerat hutang. Salah satu point penting agar terhindar dari hutang adalah hiduplah apa adanya sesuai kemampuan, bernsyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita, lihatlah orang-orang yang dibawah dan jangan melihat ke orang-orang yang perekonomiannya di atas kita, percayalah rizki dari Allah dan Allah yang mengaturnya, dan jangan berhutang kecuali dalam keadaan yang mengharuskan kita berhutang. 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar