Skip to main content

AGAR TIDAK DIPERANGI ALLAH

Fariq Gasim AnuzPemuda Turki yang miskin bernama Khairuddin Afandi hidup di zaman kekhalifahan Utsmani. Setiap dia melihat makanan yang enak-enak di toko kue, dia ingin membeli dan menikmatinya. Tapi ia tidak memiliki uang untuk membelinya. Seiring berjalannya waktu, Allah melapangkan rezeki untuknya. Ia mampu membeli kue yang ia idamkan sejak dahulu. 

Ia putuskan uangnya untuk ditabung karena ia memiliki cita-cita untuk membangun masjid. Setiap ia melihat makanan yang diinginkannya maka ia berkata:  "Anggap saja saya sudah makan." Sampai akhirnya setelah dua puluh tahun, ia berhasil mewujudkan cita-citanya membangun masjid yang diberi nama oleh masyarakat sekitar "Sanki Yadem Caami" atau artinya Masjid Jami' "Anggap Saja Saya Sudah Makan." Masjid tersebut sampai sekarang masih berdiri di District Al Fatih Istanbul. 
  
Jika setiap muslim memiliki pola hidup hemat dan senang bersedekah niscaya banyak hal yang bisa dilakukan oleh umat Islam mengingat populasi umat Islam yang cukup besar di negeri kita Indonesia.  Penulis prihatin ketika berkunjung ke daerah-daerah di wilayah Indonesia,  ada diantara lembaga-lembaga islam meminjam uang dari bank dengan sistem riba dengan alasan untuk memajukan dan mengembangkan sekolah atau rumah sakit yang mereka kelola. Mengapa  harus memaksakan diri sampai gelap mata melakukan transaksi ribawi yang di haramkan Allah? 

Allah berfirman: 

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهٰى  فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَ ى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُو ن ان ٢٧٥
( يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ) ٢٧٦
275. orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

276. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ (279) 

278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

وما هن ؟ قال: الشرك بالله و السحر و قتل النفس التي حرم الله إلا بالحق و أكل البا و أكل مال اليتيم و التوالي يوم الزحف و قذف المحصنات المؤمنات الغافلات 
“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membiasakan! " Para sahabat berkata:" Wahai Rasulullah apakah perkara-perkara itu ?" Rasululah menjawab:" Menyekutukan Allah, Perbuatan sihir, Membunuh orang yang diharamkan Allah ( membunuhnya ), kecuali dengan alasan ynang benar, Memakan riba, Memakan harta yatim, Lari dari peperangan, dan Menuduh berzina wanita mu’min yang menjaga kehormatannya ( Wanita baik-baik )" ( HR. Bukhari Muslim )

Dari Jabir radhiallahu anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ 
وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

 Bantulah lembaga-lembaga Islam yang ikhlas dan amanah agar mereka terhindar dari dosa riba yang membinasakan dan agar kaum muslimin mendapatkan manfaat dari lembaga-lembaga tersebut. Jika lembaga-lembaga tersebut belum mendapatkan bantuan dari masyarakat untuk mengembangkan proyek dakwah, pendidikan dan sosial mereka, maka jangan dengan alasan darurat mereka meminjam uang dengan sistem riba. Karena hal itu bukanlah darurat. Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya. Allah memerintahkan agar kita istiqamah. 

Sumber:  Buku Kepemimpinan &  Keteladanan Umar bin Khathab radhiallahu anhu
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar